Monday, 21 April 2014

Tentang Perpisahan Berhari-Hari yang Lalu


Dua orang berjumpa di sebuah kedai untuk berbincang tentang hubungan mereka. Obrolan yang mereka rasa perlu sebab keduanya sama-sama sudah merasakan kejanggalan berbulan-bulan lamanya. Kejanggalan yang dipicu oleh ritme yang tak sama, dongkol yang menjadi-jadi, perasaan yang mudah tersinggung, ketimpangan dalam memberi perhatian, sulitnya menghargai proses masing-masing, dan sebagainya dan sebagainya. Pun mereka tahu bahwa masing-masing menghadapi fase baru sebagai individu (kuliah yang sama-sama baru selesai, lingkungan baru, juga bingung dan cemas yang terus datang di antara mimpi-mimpi pribadi). 

Yang perempuan pernah dengar soal “Konon, yang bisa bertahan di masa sulit seperti itu, akan bisa bersama…” Tapi mereka berdua sama paham: mereka tak bisa bertahan; mereka tak bisa bersama. Dua-duanya bahkan tak bisa mereka-reka alasan untuk tetap bertahan. Maka, sebelum keduanya jadi makin menyebalkan, sebelum masing-masing jadi makin bikin sakit: mereka sepakat berpisah. Yang perempuan merasa seperti ada beban berat yang hilang dari dalam dirinya. Rasa-rasanya, laki-laki di seberang mejanya juga merasakan hal yang sama (toh laki-laki itulah yang beberapa hari sebelum perjumpaan mengirimkan pesan “aku tidak bahagia sama kamu…”­).

Lalu ada petuah-petuah sok tahu yang keluar dari mulut si perempuan: kamu jangan mudah tersinggung kalau dikritik, kamu pasti akan tahu maumu apa… Yang laki-laki mengingatkan bahwa sebagai teman mereka tentu masih bisa kerja bersama di masa depan. Tak ada air mata. Bahkan tak ada kesedihan yang bisa dirasa dari tiap kata yang diucapkan dalam percakapan itu. Sebab, mereka tampaknya tahu, perpisahan kali ini tidak perlu disikapi dengan cara seperti itu. 

2 comments: